Showing posts with label Economy. Show all posts
Showing posts with label Economy. Show all posts
Tuesday, February 10, 2015
Thursday, January 29, 2015
Posted by Unknown on 11:54 PM with No comments
Menurut desas desus, sudah banyak produsen TV yang mulai kolaps kecuali produsen serba bisa asal negeri ginseng Samsung dan LG.
Kalau menurut pandangan saya, memang sudah saatnya produsen TV selain Samsung dan LG mulai menyetop produksi mereka.
Lah koq malah di suruh stop... bagaimana nasib jutaan karyawan kami? terus kami harus bagaimana?
mungkin itu pertanyaan yang langsung keluar... tapi eit tunggu dulu... dengar dulu pemaparan dari saya. maksudnya stop produksi TV adalah mengehentikan proses produksi TV Biasa, kalo sekarang jaman Smart TV boleh dikata yang di stop adalah Stupid TV.
Namun Smart TV yang sekarang beredarpun belumlah smart-smart amat.... kemampuannya itu-itu saja... coba dong bikin yang lebih revolusioner, kasih nama iTV gitu (siapa tahu apple atau siapapun belum mematenkan nama ini) buruan deh....
iTV bukan sekedar smart namun INTELIGENT...keren kan.
Pintar di sini berarti secara keseluruhan, iTV ini pintar mereduksi biaya produksi, menurunkan biaya marketing, iklan dan promosi, meningkatkan feedback dari pemakai, sebagai alat menghasilkan uang dan sebagainya.
Seandainya saja saya seorang Milyader, akan langsung saya produksi iTV dengan harga jual sama dengan harga pokok produksi... laaah koq? gotong royong dong?... tunggu sebentar, ibarat memancing ikan besar kita harus rela mengumpankan ikan kecil hasil jerih payah tangkapan pertama.
Saya si optimis kalo saya berhasil memproduksi barang ini, lama kelamaan Google akan ciut, apalagi FB. ha..ha..ha..ha.. NGIMPI.
Yaaa mudah mudahan ide ini bisa sampai ke bos-bos pemilik parbik TAHU eh... pabrik TV, siapa tahu saya diundang untuk mempresentasikan temuan saya yang brillian ini...he..he..he.. NGAREP.COM
Posted by Unknown on 7:01 PM with No comments
Mungkin hal ini sudah terpikirkan oleh orang lain, namun dari pada nempel di pikiran saya mending saya tuangkan saja ke Blog ini.
Selama ini kios berjalan (moveable) sudah sering kita lihat dan mungkin diantara pembaca ada yang sudah menjalankan bisnis dengan media ini, namun untuk bangunan portable yang bisa di bongkar pasang dan berpindah-pindah dengan ukuran sebesar rumah atau ruko sampai saat ini saya belum pernah melihatnya di Indonesia.
Pada saat pertama kali ingin menjalankan bisnis mungkin yang terpikirkan oleh kita adalah sewa kios, lapak atau ruko, atau apabila modal cukup besar hal yang pertama terpikirkan adalah apabila lokasi yang di incar tidak ada ruko, maka alternatif lain adalah sewa tanah jangka untuk kemudian di bangun kios/ toko.
Sempat terlintas dalam pikiran, Kenapa harus mendirikan bangunan yang notabene memakan biaya yang besar? kenapa tidak memikirkan untuk mempunyai asset bangunan yang mudah untuk di pindahkan ketika sewa tanah berakhir.
Alternatif pembuatan bangunan yang mudah di pindahkan, mudah di bongkar pasang untuk kemudian juga mudah untuk menyesuaikan ukuran mungkin bisa menjadi solusi alternatif.
Bisnis penyediaan media ini mungkin menjadi tren mengingat sekarang semangat enterpreneur sedang naik.
Selama ini kios berjalan (moveable) sudah sering kita lihat dan mungkin diantara pembaca ada yang sudah menjalankan bisnis dengan media ini, namun untuk bangunan portable yang bisa di bongkar pasang dan berpindah-pindah dengan ukuran sebesar rumah atau ruko sampai saat ini saya belum pernah melihatnya di Indonesia.
Pada saat pertama kali ingin menjalankan bisnis mungkin yang terpikirkan oleh kita adalah sewa kios, lapak atau ruko, atau apabila modal cukup besar hal yang pertama terpikirkan adalah apabila lokasi yang di incar tidak ada ruko, maka alternatif lain adalah sewa tanah jangka untuk kemudian di bangun kios/ toko.
Sempat terlintas dalam pikiran, Kenapa harus mendirikan bangunan yang notabene memakan biaya yang besar? kenapa tidak memikirkan untuk mempunyai asset bangunan yang mudah untuk di pindahkan ketika sewa tanah berakhir.
Alternatif pembuatan bangunan yang mudah di pindahkan, mudah di bongkar pasang untuk kemudian juga mudah untuk menyesuaikan ukuran mungkin bisa menjadi solusi alternatif.
Bisnis penyediaan media ini mungkin menjadi tren mengingat sekarang semangat enterpreneur sedang naik.
Wednesday, January 28, 2015
Posted by Unknown on 7:30 PM with No comments
Mungkin judul di atas terlalu provokatif atau lebih tepatnya berkonotasi negatif.
Artikel ini hanyalah sebatas sudut pandang saya yang selama ini menyaksikan sendiri kasus pembajakan berada di depan mata, bahkan saya akui beberapa kali pernah menikmati (membeli .red) produk produk bajakan.
Sejak jaman saya masih TK pembajakan kaset sudah marak terjadi dimana-mana, di lapak-lapak pinggir jalan sampai di kota-kota kecil penjuru nusantara akan sangat gampang sekali menemukan kaset bajakan.
Sampai hari ini malah lebih merajalela, seiring berkembangnya teknologi, proses pembajakan dengan sangat mudah dilakukan. Hasil hasil bajakan HAKI bisa di temui dimana saja, sudah tidak perlu lagi mencari di pinggir jalan, di kawasan elite pun dengan sangat mudah di temukan material bajakan HAKI, software, film dan musik terutama.
Upaya memerangi pembajakan sudah dilakukan dengan cara dan biaya yang sangat besar, Kontribusi biaya RESEARCH untuk mencari bagaimana kontent untuk tidak di pindah tempatkan sudah dilakukan berpuluh puluh tahun dengan melibatkan berbagi pakar, namun apa hasilnya? berapa persen turun? atau malah tambah naik prosentasenya?.
Apakah langkah RESEARCH untuk membuat GEMBOK anti pembajakan kontent yang menguras biaya sangat besar ini sebanding dengan hasilnya?
Kalo menurut saya pribadi yang mempunyai jalan pikiran sempit, tanpa latar belakang teknologi canggih mungkin akan berpikiran terbalik dengan apa yang sudah dilakukan perusahaan perusahaan besar.
Logika terbalik saya hanya berkutat di seputar bagaimana membuat sistem dan prosedur yang hemat biaya dan bisa medistribusikan kontent dengan efisien.
Langkah yang mungkin dilakukan terutama di Indonesia yang notabene pembajak berada di depan hidung adalah dengan seolah-olah tidak menganggap mereka ada, dan hanya memikirkan bagaimana cara mendeliver kontent kepada konsumen dengan menekankan pada efisiensi biaya dan efektifitas distribusi.
Point-point yang menurut saya menguras biaya akan coba di hilangkan seperti biaya RESEARCH, produksi dan distribusi.
http://www.tempo.co/read/news/2015/01/20/112636253/Rhoma-dan-Ebiet-Jadi-Komisioner-Hak-Cipta
http://metro.sindonews.com/read/918534/31/kerugian-akibat-vcd-dvd-bajakan-rp5-triliun-setiap-bulan-1414907145
Artikel ini hanyalah sebatas sudut pandang saya yang selama ini menyaksikan sendiri kasus pembajakan berada di depan mata, bahkan saya akui beberapa kali pernah menikmati (membeli .red) produk produk bajakan.
Sejak jaman saya masih TK pembajakan kaset sudah marak terjadi dimana-mana, di lapak-lapak pinggir jalan sampai di kota-kota kecil penjuru nusantara akan sangat gampang sekali menemukan kaset bajakan.
Sampai hari ini malah lebih merajalela, seiring berkembangnya teknologi, proses pembajakan dengan sangat mudah dilakukan. Hasil hasil bajakan HAKI bisa di temui dimana saja, sudah tidak perlu lagi mencari di pinggir jalan, di kawasan elite pun dengan sangat mudah di temukan material bajakan HAKI, software, film dan musik terutama.
Upaya memerangi pembajakan sudah dilakukan dengan cara dan biaya yang sangat besar, Kontribusi biaya RESEARCH untuk mencari bagaimana kontent untuk tidak di pindah tempatkan sudah dilakukan berpuluh puluh tahun dengan melibatkan berbagi pakar, namun apa hasilnya? berapa persen turun? atau malah tambah naik prosentasenya?.
Apakah langkah RESEARCH untuk membuat GEMBOK anti pembajakan kontent yang menguras biaya sangat besar ini sebanding dengan hasilnya?
Kalo menurut saya pribadi yang mempunyai jalan pikiran sempit, tanpa latar belakang teknologi canggih mungkin akan berpikiran terbalik dengan apa yang sudah dilakukan perusahaan perusahaan besar.
Logika terbalik saya hanya berkutat di seputar bagaimana membuat sistem dan prosedur yang hemat biaya dan bisa medistribusikan kontent dengan efisien.
Langkah yang mungkin dilakukan terutama di Indonesia yang notabene pembajak berada di depan hidung adalah dengan seolah-olah tidak menganggap mereka ada, dan hanya memikirkan bagaimana cara mendeliver kontent kepada konsumen dengan menekankan pada efisiensi biaya dan efektifitas distribusi.
Point-point yang menurut saya menguras biaya akan coba di hilangkan seperti biaya RESEARCH, produksi dan distribusi.
http://www.tempo.co/read/news/2015/01/20/112636253/Rhoma-dan-Ebiet-Jadi-Komisioner-Hak-Cipta
http://metro.sindonews.com/read/918534/31/kerugian-akibat-vcd-dvd-bajakan-rp5-triliun-setiap-bulan-1414907145
Subscribe to:
Posts (Atom)





